Sunday, July 5, 2009

Menilik Pasar Busana Muslim Indonesia

Sebagai target pasar, Indonesia sudah tentu memiliki potensi besar, mengingat jumlah penduduk yang lebih dari 230 juta jiwa dengan tingkat pendapatan rata-rata sepanjang tahun sebesar USD2.271 atau setara Rp21,7 juta. Maka wajar jika banyak peritel dan pelaku mode yang menyasar pasar Indonesia.

Bagi dunia marketing, angka tersebut tentu fantastis karena pendapatan per kapita merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur pasar. Secara teoretis, jika pendapatan naik, berarti daya beli masyarakat juga meningkat. Teori itu juga berlaku untuk industri mode. Pelaku fashion tentu tidak ketinggalan merayakan kesempatan untuk meningkatkan penjualan mereka. Tapi celah ini tidak hanya dimanfaatkan oleh pelaku mode lokal, melainkan juga peritel dan desainer asing, termasuk di antaranya Malaysia.

Memang, bila dibanding dengan peritel Eropa yang membidik target konsumen menengah ke atas melalui ragam busana kontemporer, peritel dan desainer Malaysia hanya memiliki sedikit "potongan kue". Namun "potongan kue" tersebut justru merupakan celah pasar yang sedang berkembang. Menurut Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Taruna K Kusmayadi, bisnis busana muslim di Indonesia memang semakin menjanjikan. Karenanya wajar bila banyak yang tergiur untuk menggaet konsumen Tanah Air.

"Bisnis busana muslim sekarang ini semakin menjanjikan, apalagi sekarang lebih banyak yang bisa digarap seperti busana muslim pesta (cocktail) dan juga busana pengantin muslim," ujar pria yang kerap disapa Nuna ini. Malaysia bergerak masuk melalui ajang Islamic Fashion Festival (IFF), yang sekaligus bertujuan membangun platform pusat busana muslim Asia di tiga kota, Jakarta, Kuala Lumpur, dan Dubai. Desainer-desainer Negeri Jiran yang beberapa waktu lalu sempat mempertunjukkan koleksinya di panggung Jakarta pun, tidak memungkiri potensi besar pasar Indonesia. Khoon Hooi, salah satu desainer muda asal Malaysia mengatakan bahwa Indonesia merupakan pasar yang sangat menggiurkan.

"Indonesia adalah negara yang memiliki target market potensial, terutama untuk busana muslim," ujarnya.

Karenanya, wajar bila Hooi tidak ragu menjejakkan kakinya di Indonesia untuk melebarkan sayap lini yang baru digarapnya setahun terakhir ini. Pendapat Hooi juga diamini oleh Melinda Looi. Desainer yang terkenal dengan moslem evening wear-nya ini juga tidak menampik bila kunjungan regulernya di setiap pergelaran IFF juga bertujuan lebih mendekatkan diri pada konsumen Indonesia.

"Saya mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda untuk pasar Indonesia, busana muslim yang glamor tanpa kehilangan esensi anggun dan elegan," tuturnya.

Desainer Malaysia lainnya yang juga berusaha menarik minat konsumen Tanah Air adalah Dato Tom Abang Saufi, Atim Agoy, Hajaba, dan Khadani.

Ya, bagi peritel asing, Indonesia memang pasar yang tidak boleh dilewatkan. Namun, bagaimana dengan perkembangan pelaku mode dalam negeri? Nuna mengatakan, dilihat dari segi desain dan materialnya, Indonesia memang patut berbangga, terutama di ranah busana muslim karena Indonesia terbilang lebih maju dibanding negara serumpun. Kendati demikian, dari segi bisnis, industri busana muslim Indonesia belum sepenuhnya terbangun.

"Kalau dari sisi perkembangan mode, ya, fashion muslim di Indonesia sudah jauh lebih maju dibanding tahun 80 dan 90-an dulu, tapi jika berbicara mengenai perkembangan industrinya, kita belum sampai ke sana," terangnya.

Menurut Nuna, hal itu terjadi karena beberapa desainer busana muslim sendiri masih stagnan dengan rancangannya. "Mereka terjebak oleh pasar dan konsumennya sendiri. Di satu sisi, sebagai desainer, kita memang harus bisa mengikuti pasar, tapi di sisi lain hal itu bukan berarti kita harus terus-menerus memproduksi koleksi yang sama," papar Nuna. "Tapi sekali lagi, hal itu kembali pada masing-masing desainer," sambungnya.

Kendati demikian, Nuna yakin, suatu saat industri busana muslim Indonesia bisa sejajar dengan busana kontemporer.

"Namun, itu tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, desainer tidak bisa kerja sendiri, tentu butuh dukungan berbagai pihak, termasuk peran pemerintah yang menyadari bahwa ini merupakan lahan yang bisa digarap, karena industri busana muslim bisa sangat besar dan mendunia," tandasnya.
Sumber: Koran SI/Koran SI/tty

1 comment:

Abdul Mujib elChusairy said...

Ass... Wr. Wb. Akhi/Ukhti, Numpang promo ya :) Barangkali Akhi/Ukhti mau nambah koleksi Fashion Muslim, Hubungi kami di +6287726301159 / +628122428180 / 26D39939 (keagenan) / 2922B30D (pemesanan) / +622260957179.
Syukron atas kesempatan & kerjasamanya, Jazakumullohu Khairan Katsira, AMIN YRA :)